Pendidikan Karakter di Museum


Ehaay, apa kabar? Semoga selalu sehat ya. Terutama di akhir tahun begini, badan harus fit dong ya. Karena akhir tahun identik dengan waktunya liburan. Walaupun liburan masih beberapa minggu lagi, tanggal 30 November 2017 yang lalu saya jalan-jalan ke Museum Kebangkitan Nasional. 

Yup, untuk yang kesekian kalinya saya ke museum yang berada tidak jauh dari RSPAD Gatot Soebroto ini. Tetapi kali ini saya ke Museum Kebangkitan Nasional tanpa membawa keluarga. Bukan karena enggak sayang keluarga lho ya. Tetapi karena kali ini tujuannya berbeda, bukan untuk rekreasi ataupun bersenang-senang.

Saya ke Museum Kebangkitan Nasional untuk menghadiri acara diskusi "Pendidikan Karakter di Museum" yang diadakan oleh pihak Museum. Bertempat di hall Museum Kebangkitan Nasional, hadir sekitar 30 guru IPS SMP sederajat dan guru sejarah setingkat SMA sederajat untuk wilayah Jabodetabek. 

Tema diskusi "Pendidikan Karakter di Museum" disadari bahwa Museum mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan karakter putra putri bangsa terutama generasi millenials sekarang ini. Dengan dipandu oleh moderator ibu Merina, M.Pd dan hadir dua narasumber yang berkompeten yaitu Dr. Dyah Chitraria Liestyari dan Prof. Dr. Agus Aris Munandar. 

Diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa bersama, acara diskusi "Pendidikan Karakter di Museum" dimulai. Acara dilanjutkan dengan pemaparan mengenai pentingnya penanaman karakter untuk putra putri bangsa para generasi millenials oleh Dr. Dyah Chitraria Liestyari. 

MENGAPA HARUS PENDIDIKAN KATAKTER?
Pendidikan karakter adalah usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. 

Tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Yang sesuai dengan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan PP No. 17 tahun 2010 tentang pengelolaan penyelenggaraan Pendidikan. Jelas bahwa tujuan pendidikan di setiap jenjang sangat diarahkan pada pembentukan karakter bagi peserta didik. 

BAGAIMANA PENDIDIKAN KARAKTER DIIMPLEMENTASIKAN?
Pada masa emas anak atau golden age merupakan masa-masa perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak mulai terbentuk. Di usia 0-6 tahun merupakan golden age, pada usia dini inilah karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. 

Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri, lingkungan dan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak.

Cara anak memahaminya akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya dan erat kaitannya dengan praksis budaya sebagai tindakan nyata. Dalam pembentukan karakter hanya dapat dipahami dengan mengintegrasikan tiga domain yang saling beririsan, yaitu kognitif (konsep moral), afektif (sikap moral), dan psikomotorik (perilaku moral).

Diskusi semakin menarik dengan dilanjutkannya pemaparan Prof. Dr. Agus Aris Munandar. Beliau menjelaskan mengenai permuseuman dan peran penting museum dalam penanaman pendidikan karakter anak bangsa.

Menurut Prof. Dr. Agus Aris Munandar, museum sekarang ini cenderung terbagi menjadi tiga tipe yaitu: 
  • Tradisi, merupakan museum yang mempunyai ciri-ciri perhatian utama pada koleksi, argumentasi pemilihan koleksi dan mengumpulkan artefak sebatas estetik saja.
  • Modern, merupakan tipe museum yang mempunyai ciri-ciri memperhatikan argumen dalam pemilihan koleksi, memperhatikan kajian koleksi, menata dan menyajikan koleksi untuk dilihat masyarakat.
  • Pasca Modern, tipe museum yang mempunyai ciri-ciri sebagai tempat untuk ajang berpikir kreatif, sumber inspirasi, sebagai rumah keluarga, menciptakan produk, dan memperhatikan pemasaran museum.
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa suatu museum dapat berkembang dengan adanya lima komponen, yaitu benda koleksi  narasi koleksi, para pengelola, masyarakat yang mengapresiasinya dan gedung serta penataannya secara fisik. 

Kehadiran museum di tengah-tengah masyarakat membawa peran penting diantaranya, yaitu:
  • Bercermin kepada masa lalu
  • Berpikiran jauh ke depan dan konstruktif
  • Terbuka dan dinamis
  • Menghargai karya orang lain 
  • Kreatif dan berinisiatif
  • Rasa percaya diri 
Penanaman karakter di museum akan terjadi apabila dilakukan dengan kunjungan berulang-ulang, mampu mengamati dan menyerap nilai di balik koleksi yang dipamerkan daan kemudian mampu melakukan pengendapan kognisi dalam pikiran dan sikapnya. 

Eksistensi museum bertujuan yang berkenaan dengan semangat kesatuan berbangsa dan bernegara, yaitu mendokumentasi dan memelihara pencapaian kebudayaan bangsa, mempertegas ketahanan budaya, menanamkan karakter bangsa bagi masyarakat terutamanya bagi generasi muda penerus. 

Dengan demikian yang dimaksudkan dengan penanaman karakter melalui museum adalah karakter-karakter positif yang mungkin ditanamkan kepada generasi muda melalui berbagai pameran dan kegiatan yang diadakan museum. 

Guru sebagai ujung tombak dalam proses penanaman karakter kepada generasi muda penerus bangsa diharapkan kreativitasnya dalam menginterpretasikan koleksi museum yang cenderung naratif agar karakter positif bagsa ini tersampaikan dan diteladani oleh peserta didik. 

Pendidikan Karakter di museum ini diharapkan kualitasnya bukan hanya sekedar kuantitasnya. Di sinilah tantangan yang harus dihadapi guru IPS dan sejarah Indonesia. Dengan berbagai macam kendala yang dihadapi, harus mampu menanamkan karakter positif kepada peserta didik. Kerja sama dengan berbagai pihak pastinya akan lebih mempermudah usaha pendidikan karakter generasi penerus bangsa. 

Kebudayaan tercipta oleh manusia, tetapi dalam proses kehidupan manusia juga dibentuk oleh kebudayaan yang dimilikinya. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat menjadi lebih kuat dan maju dalam bingkai NKRI, bukan justru alat perpecahan di antara sesama warga bangsa. 

Museum berfungsi sebagai media pengenalan dan pemahaman budaya setempat ataupun karya tertentu dari suatu masyarakat pendukung kebudayaan. Perlu adanya upaya penyadaran yang sistematis melalui dunia pendidikan.

Pemanfaatan museum terutama dalam pendidikan karakter perlu usaha yang lebih menyenangkan terutama untuk para peserta didik yang lebih dikenal dengan generasi millenials yang akrab dengan dunia digital. Dibutuhkan kreativitas dan adaptasi terhadap teknologi yang berkembang agar guru tidak semakin ditinggalkan. 

Untuk guru-guru di seluruh Indonesia, mari kita tanamkan karakter peserta didik dengan berbagai cara. Terutama Museum akan dengan setia menantimu dan peserta didik tercinta. Ditanganmu nasib bangsa ditentukan.   

Share:

1 komentar

  1. Sepertinya bentuk tampilan museum harus berbenah agar generasi milenia tetap tertarik untuk datang.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan memberikan komentar di feriyana.com. Ditunggu lho, kunjungan dan komentar berikutnya.