Waspadai Ancaman Glaukoma

"Matamu melemahkanku, Saat pertama kali ku lihatmu...."

Tahu dong ya, penggalan lagu apa di atas? Yup, lagunya Jaz yang berjudul Matamu. Dari lagu Matamu dijelaskan bahwa hanya dengan mata, kita mampu melemahkan hati seseorang. Bahkan sejak pertama kali bertemu. Ewoow, berarti mata ini punya kekuatan tersendiri yaa. Bisa membuat seseorang "klepek-klepek". 

Selain itu, hanya dengan mata kita dapat buktikan kebesaran kuasa Tuhan atas penciptaannya. Keindahan penciptaan Tuhan akan dunia ini begitu mengagumkan saat kita mampu melihat langsung dengan mata kita. Enggak kebayang, apa yang akan terjadi bila penglihatan kita hilang. 

Menjaga kesehatan mata adalah salah satu bentuk cara kita bersyukur kepada Tuhan atas nikmat penglihatan yang telah diberikanNya kepada kita. Jangan sampai penglihatan kita direnggut oleh penyakit-penyakit yang kita undang dengan gaya hidup yang tidak sehat. 

Salah satu gangguan yang mampu merenggut penglihatan kita adalah Glaukoma. Hayoo, ada yang tahu apa itu Glaukoma? Mengapa Glaukoma sering disebut dengan "Silent Killer"?

Glaukoma adalah keadaan kerusakan syaraf mata yang ditandai gangguan lapang pandang, di mana peningkatan tekanan bola mata, merupakan salah satu faktor risikonya. Penyandang Glaukoma, tekanan cairan dalam bola matanya menjadi terlalu tinggi, sehingga dapat merusak serabut syaraf mata yang membawa sinyal penglihatan dari mata ke otak. Tekanan bola mata normal sekitar 10-21 mmHg. 

Glaukoma merupakan penyebab kebutaan no 2 di dunia dan Indonesia setelah katarak. Data WHO tahun 2010 menyebutkan bahwa sebanyak 39 juta orang yang mengalami kebutaan di dunia, 3,2 juta orang atau sekitar 8% adalah penyandang Glaukoma. 

Berbeda dengan katarak, kebutaan Glaukoma tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah dengan mengontrol faktor resiko. Semua orang memiliki resiko yang sama untuk terkena Glaukoma, tidak dipengaruhi oleh faktor usia. 

Glaukoma sering disebut dengan "silent killer" karena bisa merenggut penglihatan kita secara tiba-tiba tanpa  mempunyai gejala. 

Glaukoma disebabkan oleh gen keturunan dan gangguan kesehatan tubuh yang diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.
Dr. Rini Sulistiwaty, SpM narasumber seminar publik
Dr. Rini Sulastiwaty, SpM, dalam seminar publik Glaukoma dan keluarga di JEC (28/03) menuturkan, faktor resiko Glaukoma yaitu :
  • Usia lebih dari 40 tahun
  • Tekanan bola mata lebih dari 21mmlHg, 
  • RAs bangsa
  • Memiliki riwayat keluarga yang terkena Glaukoma
  • Penderita miopia (kacamata minus) tinggi mempunyai kecenderungan terhadap glaukoma sudut tertutup  dan hipermetropia (kacamata plus) yang tinggi kecenderungan terhadap glaukoma sudut terbuma 
  • Kondisi mata (trauma, infeksi dan lain-lain)
  • Penggunaan obat steroid dalam jangka waktu lama dan terus menerus (obat tetes mata, inhaler asma dan obat radang sendi)
  • Ketebalan kornea
  • Kondisi yang berhubungan dengan aliran darah seperti diabetes, hipertensi dan migren. 
Fyi, ternyata ada 5 jenis Glaukoma yaitu: Glaukoma Primer Sudut Terbuka, Glaukoma Sudut Tertutup Akut, Glaukoma Primer Sudut Tertutup Kronik, Glaukoma Sekunder dan Glaukoma Kongentinal. 

Glaukoma Primer lebih banyak terjadi akibat faktor resiko riwayat keturunan atau gen. Sedangkan Glaukoma Sekunder diakibatkan faktor resikoblainnya. Kalau untuk Glaukoma Kontingental biasanya terjadi sejak lahir. 

Bagi yang terkena Glaukoma, penglihatan akan mulai hilang dari mata bagian samping. Penglihatan yang hilang tidak akan kembali lagi. Karena syaraf mata yang rusak tidak bisa diperbaiki. 
Penglihatan penderita Glaukoma
Sebagian besar pasien Glaukoma datang ke dokter terlambat. Mungkin karena memang pengetahuan masyarakat mengenai Glaukoma sangatlah terbatas. Selain itu juga karena biaya cek kesehatan mata terbilang mahal. Kedua hal inilah yang menyebabkan masyarakat jarang atau bahkan tidak pernah cek kesehatan mata. Padahal cek kesehatan mata harus rutin dilakukan setidaknya 1 kali dalam setahun.

Rutin cek kesehatan mata, menerapkan gaya hidup sehat dan mengikuti acara seminar mengenai kesehatan mata merupakan cara memelihara kesehatan mata teeutama untuk mencegah Glaukoma
Seminar publik "Glaukoma dan Keluarga" di JEC
Seperti mengikuti Seminar Publik "Glaukoma dan Keluarga" adalah salah satu cara saya untuk memperbanyak ilmu mengenai Glaukoma. 

Bertempat di Jakarta Eye Center (JEC), Kedoya saya dan puluhan peserta dengan antusias mengikuti seminar publik tersebut. Dengan narasumber Dr. Rini Sulastiwaty, SpM dan testimoni dari Elvian, seorang pemuda yang terkena Glaukoma. 

Elvian sejak usia 3 bln, matanya berair, merah dan silau. Saat ia dibawa orang tuanya ke dokter, ia diberi obat tetes mata yang ia gunakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Justru karena penggunaan obat tetes mata yang lama inilah yang menyebabkan Elvian terkena Glukoma. 
Elvian sedang memberikan testimoni mengenai Glaukoma yang dideritanya
Baru saat menginjak usia 17 tahun, Elvian kehilangan penglihatannya. Mata yang satu benar-benar gelap sedangkan yang satu lagi juga sudah seperti mengintip dari lubang kunci. Karena Glukoma ini, Elvian merasa di bully oleh lingkungannya bahkan hingga saat ia melamar pekerjaan, ia selalu ditolak. 

Namun karena Elvian tidak pernah putus asa, akhirnya sekarang ia diterima sebagai karyawan di sebuah restoran. Semangat Elvian ini ditularkan kesemua peserta seminar siang itu. Menurutnya, walaupun Glaukoma membuatnya keterbatasan tetapi tidak membuatnya menghentikan langkahnya.

Lebih lanjut, Dr. Rinienjelaskan bahwa cara mendeteksi Glaukoma, pasien harus datang ke dokter mata yang bekerja di Rumah Sakit yangmempunyai alat-alat pemeriksaan lengkap. Karena secara kasat mata, Glaukoma tidak terlihat. 
Saya sedang eye check
Lalu pemeriksaan atau skrining apa untuk dapat mendeteksi Glaukoma? Nih, skrining yang harus dilakukan untuk mendeteksi Glaukoma:


  • Pemeriksaan tajam penglihatan
  • Pengukuran tekanan bola mata
  • Pemeriksaan syaraf optik
  • Pemeriksaan ketebalan kornea
  • Pemeriksaan sudut bilik mata depan
  • Pemeriksaan lapanf pandang
"Biaya pasien glaukoma tidak murah. Obatnya, operasinya bahkan setiap jangka waktu berkala harus selalu rutin periksa.  Terapi glaukoma seumur hidup," tutur Dr Rini. 

Menyadari biaya pemeriksaan kesehatan mata tidak murah, Jakarta Eye Center (JEC) Rumah Sakit spesialis mata mengeluarkan member card. Bagi yang mempunyai membercard akan mendapatkan harga khusus, diskon dan promo dari JEC.

Saat ini JEC semakin berkembang pesat dan sudah ada di daerah Kedoya, Menteng, Cibubur, Tambora, Cinere, Tanjung Priuk, Semarang dan bahkan sudah ada di Purwokerto. 

Antar Rumah Sakit kini data pasien sudah tersimpan secara online, sehingga kalau dalam keadaan mendesak berada di luar wilayah JEC langganan bisa periksa di JEC terdekat. Untuk info lebih lengkap mengenai JEC, bisa dilihat di website resminya http://www.jec.co.id
Salah satu peserta seminar sedang cek ketajaman mata
Selain mendapatkan banyak pengetahuan mengenai Glaukoma, di acara Seminar Publik "Glaukoma dan Keluarga" , para peserta bisa lakukan cek mata secara gratis. 

Nah, mulai tahu banyak kan tentang Glaukoma. Kalau begitu mulai saat ini, yuk ah kita cek mata secara rutin minimal 1 kali setahun dan mulai terapkan gaya hidup sehat mulai sekarang juga. Hidup sehat yuk!

Share:

0 komentar

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan memberikan komentar di feriyana.com. Ditunggu lho, kunjungan dan komentar berikutnya.